Minggu, 05 Januari 2014

Materi Populasi dan Sampel penelitian kuantitatif

Diposting oleh Unknown di 11.55 0 komentar
Hey friends, Untuk materi dapat di download di link dibawah ini :

Untuk Download paper - Disini

Untuk Download PPT - Disini

selamat belajar !!!!! ^^^^

Teori Penelitian kuantitatif

Diposting oleh Unknown di 11.44 0 komentar

A.    Pengertian Teori
Dalam peneitian, Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generelisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian. (Sumadi Suryabrata dalam Sugiyono, 2010:52). Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. (Neumen dalam Sugiyono, 2010:52).
Teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik. (Wiliam Wiersma dalam Sugiyono, 2010:52).
Menurut Saifuddin Azwar (2007:39) menyatakan bahwa teori adalah serangkaian pernyataan yang saling berhubungan yang menjelaskan mengenai sekelompok kejadian. Semakin banyak kejadian yang dapat dijelaskan oleh semakin sedikit pernyataan, berarti teorinya semakin baik.
Sitirahayu Haditono, 1999 menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan dan meramalkan gejala yang ada. Mark 1963 membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
1.    Teori yang deduktif: memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2.    Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
3.    Teori yang fungsional: di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut.
1.    Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan antara variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya.
2.    Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (induktif).
3.    Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Di sini biasanya tedapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh malalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proporsisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala (Sugiyono,  2010).
Konsep merupakan pendapat ringkas yang dibentuk melalui proses penyimpulan umum dari suatu peristiwa berdasarkan hasil obervasi yang relevan. Definisi merupakan suatu pernyataan mengenai ciri-ciri penting suatu hal, dan biasaya lebih kompleks dari arti, makna, atau pengertian suatu hal. Sedangkan proposisi merupakan pernyataan yang membenarkan atau menolak suatu perkara.

B.    TINGKATAN DAN FOKUS TEORI
Numan (dalam Sugiyono, 2008) mengatakan bahwa tingkatan teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: micro, meso, dan macro.

1.    Level teori micro maksudnya: memerlukan hanya sedikit waktu, tempat, dan sejumlah orang. Konsep, biasanya tidak terlalu abstrak.
2.    Level teori meso maksudnya: mencoba menarik benang merah antara micro dan macro. Contoh: teori organisasi dan gerakan sosial, atau komunitas tertentu.
3.    Level teori macro: berkenaan dengan hal-hal yang  operasional seperti lembaga sosial, sistem budaya secara keseluruhan, dan keseluruhan masyarakat. Level ini banyak menggunakan konsep dan abstract.

Selanjutnya, Numan mengatakan bahwa fokus teori dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: teori substantif, teori formal, dan teori pertengahan (antara):

1.    Teori substantif adalah pengembangan dari hal-hal yang khusus, seperti: aksi pemogokan kerja, kelompok anak nakal, perceraian, atau pertentangan antar golongan.
2.    Teori formal adalah konsep yang global di dalam ilmu umum, seperti penyimpangan – penyimpangan dalam bidang sosial dan kekuasaan.
3.    Teori pertengahan (antara) adalah sedikit lebih abstrak. Bentuknya dapat formal. Biasanya digunakan didalam ilmu sosiologi.

Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori substantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang diteliti.

C. Kegunaan Teori Dalam Penelitian
Singarimbun dan effendi (1987:37), teori berfungsi menjelaskan seecara sistematis suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antar konsep. Selain itu, teori juga menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungan tersebut.
Menurut Snelbecker dalam Moleong (2002:58) fungsi teori adalah meramalkan dan menjelaskan perilaku, menemukan teori lainnya, untuk aplikasi praktis, memberikan perspektif bagi usaha jaringan data, membimbing dan menyajikan gaya penelitian.
Cooper and Schindler (2003), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:
1.    Theory narrows the range of fact we need to study
2.    Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning
3.    Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way
4.    Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation
5.    Theory can be used to predict further fact that should be found

Terjemah :
1.    Teori mempersempit berbagai fakta kita perlu mempelajari
2.    Teori menyarankan pendekatan penelitian yang mungkin untuk menghasilkan makna terbesar
3.    Teori menyarankan sistem untuk penelitian untuk memaksakan pada data untuk mengklasifikasikan mereka dengan cara yang paling bermakna
4.    Teori merangkum apa yang diketahui tentang objek studi dan menyatakan keseragaman yang berada di luar pengamatan langsung
5.    Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta lebih lanjut yang harus ditemukan

Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwa “basically, theory helps provide a frame work by serving as the point of departure for pursuit of a research problem. The theory identifies the crucial factors. It provides a guide for systematizing and interrelating the various facets of research. How ever, besides providing the systematic view of the factors under study, the theory also may very well identify gaps, weak points, and inconsistencies that indicate the need for additional research. Also, the development of theory may light the way for continued research on the phenomena under study. Another function of theory is povide one or more generalization that can be test and used in practical applications and further research.”

Pada dasarnya, teori membantu menyediakan kerangka kerja dengan melayani sebagai titik tolak untuk mengejar masalah penelitian. Teori ini mengidentifikasi faktor-faktor penting. Ini menyediakan panduan untuk sistematisasi dan interrelating berbagai aspek penelitian. Bagaimana pernah, selain memberikan pandangan sistematis dari faktor-faktor yang diteliti, teori ini juga mungkin sangat baik mengidentifikasi kesenjangan, titik lemah, dan inkonsistensi yang menunjukkan perlunya penelitian tambahan. Juga, pengembangan teori dapat menerangi jalan bagi penelitian lanjutan tentang fenomena yang diteliti. Fungsi lain dari teori adalah povide satu atau lebih generalisasi yang dapat menguji dan digunakan dalam aplikasi praktis dan penelitian lebih lanjut

Gawin dalam Nana Syaodih Sumadinata (2005) menyatakan bahwa fungsi teori sebagai berikut...the theory help researcher to analyze data to make shorthand summarization or synopsis of data and realations, and to suggest new things to try out. (peneliti bantuan teori untuk menganalisis data untuk membuat singkatan summarization atau sinopsis data dan realations, dan menyarankan hal-hal baru untuk mencoba) Selanjutnya dinyatakan bahwa, ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah:
1.    A theoritical system must permit deduction which be tested emperically
2.    A theory mus be compatible both with observation and with previouslyvalidated theory
3.    Theories must be stated in simple terms, that theory is best which explains the most in the simplest from
4.    Scientific theories must be based on empirical facts and relationship

Terjemah :
1.    Sebuah sistem teoritis pasti mengizinkan pemotongan yang diuji secara empiris
2.    Sebuah teori mus kompatibel baik dengan observasi dan dengan teori previouslyvalidated
3.    Teori harus dinyatakan dalam istilah yang sederhana, teori yang paling baik yang menjelaskan paling sederhana dari
4.    Teori-teori ilmiah harus didasarkan pada fakta-fakta empiris dan hubungan

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.

Pohon teori-teori sangat luas dan dapat disusun ke dalam pohon teori pendidikan seperti ditunjukan pada gambar 3.1. berdasarkan gambar 3.1 tersebut terlihat bahwa, teori-teori pendidikan dapat tersusun dalam bentuk pohon ilmu pendidikan. Akar dari ilmu pendidikan dikembangkan dari: ilmu-ilmu tingkah laku, biologi, fisiologi, psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi. Selain itu juga dikembangkan dari pengalaman empiris praktik pendidikan sekolah dan luar sekolah. Cita-cita hidup, agama, hukum, konstitusi, sejarah dan adat istiadat juga digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu pendidikan.

Teori-teori pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan dan Ausland pedagogik (studi pendidikan luar negri). Filsafat-filsafat pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat ilmu pendidikan dan filsafat praktek pendidikan. Filsafat praktek pendidikan dapat dibagi menjadi: filsafat sosial pendidikan, filafat proses pendidikan klasik dan filsafat pendidikan modern.

GAMBAR 3.1 Pohon Teori Pendidikan

Filsafat pendidikan klasik dapat dibagi menjadi: filsafat pendidikan idealisme Klasik Plato (1), filsafat Pendidikan Klasik Aristoteles (2), Filsafat Pendidikan Scholasisme (3), filsafat pendidikan modern dapat dibagi menjadi: Filsafat Pendidikan Modern Awal (naturalistik romantik, empirise, rasionalisme (4), dan Filsafat Pendidikan Pasca Moern (pragunatisme, Neo-positivisme, Neo-realisme, Neo Tomisme, Ekksistensialisme (5), Auslandpedagogik (studi pendidikan luar negri) dapat dibagi menjadi Auslandpedagogik Asia dan Afrika (6), Auslandpedagogik Amerika dan Australia (7) Auslandpedagogik Eropa Barat dan Timur (8).

Teori-teori khusus pendidikandapat dibagi menjadi teknologi pendidikan dan ilmu pendidikan. Teknologi pendidikan dapat dibagi menjadi: manajemen pendidikan, pengembangan kuikulum, model-model belajar mengajar dan evaluasi pendidikan. Manajemen dapat dibagi menjadi: perencanaan pendidikan (9), pengorganisasian pendidikan (10), kepemimpinan pendidikan (11), dan pengawasan pendidikan (12), model-model belajar mengajar dapat dibagi menjadi: model interaksi sosial (13),pemrosesan informasi (14), mengajar pengembangan pribadi (15), mengajar perubahan tingkh laku (16).

Pendidikan dapat dibagi menjadi ilmu pendidkan makro dan mikro. Ilmu pendidikan makro dapat dibagi menjadi : ilmu pendidikan administrasi, ilmu pendidikan komparatif, ilmu pendidikan historis dan ilmu pendidikan kependudukan. Ilme pendidikan mikro dapat dibagi menjadi ilmu mendidik khusus, ilmu mendidik umum. Ilmu mendidik khusus dapat dibagi menjadi ilmu persekolahan,ilmu pendidikan luar sekolah, ilmu pendidikan  luar biasa. Ilmu persekolahan dapat dibagi menjadi: ilmu administrasi sekolah (17), ilmu administrasi kelas (18), ilmu administrasi kegiatan kependidikan (19), ilmupendidikan luar sekolah dapat dibagi menjadi: pedagogik keluarga (20), pedagogik tk (21), dan ilmu pendidikan masyarakat/andragog (22), ilmu pendidikan luar biasa (orthopedagogik) dapat dibagi menjadi orthopedagogik fisik (23), dan orthopedagogik mental (24), ilmu mendidik umum dapat dibagi menjadi: pedagogik teoritis (25), ilmu pendidikan psikologis (26), ilmu pendidikan sosiologi (27), ilmu pendidikan antropologi (28) dan ilmu pendidikan ekonimik (29).

Redja Mudyaharjo, (2000) mengemukakan bahwa sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peritiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan sebagai asusmsi atau titik tolak pemikiran pendidikan dan ada yang berperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah :

1.    Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual individu yang belajar dan lingkungan belajarnya
2.    Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikn tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma-norma yang baik
3.    Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi-kondisi aktual individu yang belajar,tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.

Dalam kaitanya dengan penelitian, maka fungsi teori yang pertamadigunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup atau konstruk variabel yang kan diteliti. Fungsi teori yang kedua (prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasrnya hipotesis itu merupakan pernytaan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga (kontrol) digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutny digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
Dalam proses penelitian seperti yang ditunjukan pada gambar 1.1, terlihat bahwa untuk dpaat mengajukan hipotesis penelitian, maka peneliti harus membaca buku-buku dan hasil-hasil peneitian yang relevan, lengkap dan mutakhir. Membaca buku adalah prinsip brpikir deduksi dan membaca hasil penelitian adalah prinsip berfikir induksi.
Dalam landasn teori perlu dikemukakan deskripsi teori, dan kerangka berfikir, sehingga dapat dirumuskan hipotesis dan instrumen.

D. Deskripsi Teori
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang dileliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan sat dependen, maka kelompok teori yang perludideskripsikan ada empat kelompok independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang ditelit, maka akan semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Deskripsi teori yang paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, malelui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan peneliin dapat digunakan sebagai indikator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variabel-variabel penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan anatar variabel yang diteliti, menunjukan bahwa peneliti tdak menguasai teoi dan konteks penelitian.
Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generaliasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar ia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Membaca merupakan ketrampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk
(Sumadi Suryabrata, 1996).

Untuk dapat membaca dengan baik, maka peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan. sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga kriteria, yaitu relevansi, kelengkapan dan kemuktakhiran (kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama). Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara variabel yang diteliti denga teori ynag dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemuktakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir.

Hasil penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan dengan apa yang akan diteliti dapat dilihat dari: permasalahan yang diteliti, waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian, analisis dan kesimpulan. Misalnya peneliti yang terdahulu, melakukan penelitian tentang tingkat penjualan jenis kendaraan bermotor di Jawa Timur, dan peneliti berikutnya meneiti di Jawa Barat. Jadi hanya berbeda lokasi saja. Peneliti yang kedua ini dapat menggunakan referensi hasil penelitian yang pertama.

Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut :
1.    Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2.    Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, eniklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
3.    Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. (untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permaslahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan saran yang diberikan).
4.    Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5.    Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber datayang dibaca.
6.    Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tuisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

E.    Kerangka berfikir
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting. (Uma Sekaran, bussiness research; 1992)
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan di teliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Apabila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka perlu dijelaskan pula, mengapa variabel tersebut ikut dilibatkan dalam penelitian. Selajutnya dirumuskan ke daam bentuk paradigma penelitian. Oleh sebab itu pada setiap penyusunan paradigma harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka menyususn hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.
Menurut suriasumatri (1996) bahwa seorang peniliti harus menguasai teori-teori ilmiah  sebagai dasar argumen dalam menyusun kerangka pemikiran  yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan.
Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah didiskripsikan. Dari teori-teori yang telah didiskripsikan tersebut, kemudian dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, lalu digunakan untuk merumuskan hipotesis.

•    Langkah-langkah dalam penelitian:

1.    Menetapkan variabel yang diteliti
Titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan maka perlu ditetapkan dahulu variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti dan apakah nama variabel yang diteliti.

2.    Membaca buku dan hasil penelitian (HP)
Setelah ditentuka variabel yang akan diteliti maka langkah selanjutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitian yang relevan (buku teks, ensiklopedia, dan kamus/ laporan penelitian, journal ilmiah, skripsi, tesis dll)

3.    Deskripsi teori dan hasil penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variabel yang diteliti.  Deskripsi teori berisi tentang, definisi terhadap masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.

4.    Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan objek penelitian atau tidak, karena sering terjadi teori-teori dari luar tidak sesuai untuk penelitian di dalam negeri.

5.    Analisis komparatif teori teori dan hasil penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengan car membandingkan antara teori satu dengan teori lain.


6.    Sintesa kesimpulan
Setelah melalui analisis kritis dan analisis komparatif selanjutnya penelit dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa variabel satu dengan variabel yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
7.    Kerangka berfikir
Kerangkaa berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan.

8.    Hipotesis
Uma sekaran (1992) mengemukakan bahwa,kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut:
1)    Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
2)    Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
3)    Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pakah hubbungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simentris, kausal atau interaktif (timbal balik).
4)    Kerangka berrfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam berbentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berfikir yyag dikemukakan dalam penelitian.


F.    Hipotesis

Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori hubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Langkah ketiga dalam penelitian yakni perumusan hipotesis penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat eksploratif dan deskriptif sering tidak perlu merumuskan hipotesis. Sedangkan penelitian yang menggunakan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.  
Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat disebut hipotesis. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data. Sedangkan hipotesis statistik itu ada, jika penelitian bekerja pada ssampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistik.

Dalam hipotesis juga ada hipotesis kerja dan hipotesis nihil atau nol. Jika hipotesis kerja itu disusun berdasarkan atas teori yang dipandang handal sedangkan hipotesis nol atau nihil dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalannya.
1.    Bentuk-bentuk hipotesis
a.    Hipotesis deskriptif
Merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu berkenaan dengan variabel mandiri.
b.    Hipotesis komparatif
Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
c.    Hipotesis asosiatif
Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yakni yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

2.    Paradigma penelitian, rumusan masalah dan hipotesis
a.    Judul penelitian
b.    Paradigma penelitian
c.    Rumusan masalah

3.    Karakteristik hipotesis yang baik
a.    Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
b.    Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.    Dapat diuji dengan data yag dikumpulkan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. 


Pertanyaan :

1.    Bagaimana kharakteristik teori yang baik, yang bisa digunakan sebagai acuan penelitian?
2.    Tolong jelaskan alur dari pohon teori pendidikan, supaya lebih mudah dipahami.



Daftar pustaka

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sevila, Consuelo G., dkk. 1993. Pengantar  Metode  Penelitian. Jakarta: UI–Press.
Azwar, Saifuddin. 2007. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: Alfabeta.

Sabtu, 04 Januari 2014

Daftar Isian Sosiometri

Diposting oleh Unknown di 18.00 0 komentar




Petunjuk :
Daftar isian ini merupakan salah satu usaha untuk melihat kecenderungan anda bersosialisasi dengan teman satu kelas. Saudara diminta menentukan teman yang paling anda sukai dan yang tidak anda sukai beserta dengan alasannya. Penilaian anda tidak berkaitan dengan penilaian hasil belajar. Siapapun yang anda pilih, kerahasiannya tetap terjaga. Diharapkan anda megisi sesuai dengan pilihan anda.

Data pengisi
Nama                                    :
Kelas                                      :


Atas bantuan dan partisipasi anda, saya ucapkan terima kasih.

1.       Siapa teman kelas yang anda sukai ?
a.    Nama :
Alasan :
b.   Nama :
Alasan:

2.       Siapa teman kelas  yang tidak anda sukai ??
a.       Nama :
Alasan :
b.      Nama :
Alasan:


Semarang,.... Oktober  2013
Yang memilih

Jumat, 03 Januari 2014

CONTOH JUDUL SKRIPSI PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Diposting oleh Unknown di 18.12 0 komentar




1.      PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP  SIKAP PESERTA DIDIK  DI SMP  NEGERI “X”

2.      USAHA GURU DALAM MEMPERBAIKI CARA BELAJAR SISWA MELALUI BIMBINGAN BELAJAR DI SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”


3.      STUDI KASUS PADA SISWA “Y” YANG SERING MEMINTA UANG PADA TEMANNYA DI SMP  NEGERI “X” POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGARAHKAN PERILAKU ANAK DI SD  NEGERI “X”

4.      STUDI KASUS TERHADAP SISWA “X” YANG MENGALAMI PENYIMPANGAN PERILAKU SOSIAL AKIBAT KECELAKAAN DI KELAS VIII SMP  NEGERI “X”


5.      PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA DENGAN SISWA YANG TIDAK MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA DI SMP  NEGERI “X”

6.      HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR DI SMP  NEGERI “X”


7.      KEAKTIFAN PEGAWAI TERHADAP PENINGKATAN SEMANGAT KERJA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KENAIKAN PANGKAT PADA DINAS PENDIDIKAN NASIONAL KECAMATAN “Y”

8.      PERANAN GURU PEMBIMBING DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP  NEGERI “X”


9.      HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”

10.  STUDI KASUS KLIEN “Y” PENDERITA NARKOBA DI YAYASAN “Y”


11.  STUDI KASUS TERHADAP KLIEN “Y” YANG MENGALAMI GANGGUAN SOSIAL (KENAKALAN REMAJA) DI SMP  NEGERI “X”

12.  HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”


13.  HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”

14.  HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PROFESIONAL GURU MATA PELAJARAN DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
15.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA  ”X” YANG MENGALAMI PENYIMPANGAN PERILAKU SOSIAL DI KELAS II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”

16.  STUDI KASUS TERHADAP KLIEN “X” YANG SUKA BERPERILAKU KASAR DI KELAS III SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”


17.  HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)  NEGERI “X”
18.  PENGARUH KOMPETENSI GURU KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SD  NEGERI “X”
19.  TINJAUAN TERHADAP TUGAS PERKEMBANGAN SISWA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DI SMP  NEGERI “X”
20.  PENGARUH LATAR BELAKANG KELUARGA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI KELAS VIII SMP  NEGERI “X”
21.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA ”X” MENGALAMI HASIL BELAJAR RENDAH DI KELAS VIII.A SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
22.  HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN MOTIVASI KERJA GURU  DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
23.  STUDI KASUS KLIEN “Y” (SOSIALISASI DALAM KEHIDUPAN KELUARGA YANG POLIGAMI) DI SMP  NEGERI “X”
24.  PELAKSANAAN BIMBINGAN SOSIAL–PRIBADI BERBASIS MODEL PERKEMBANGAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
25.  STUDI KASUS SISWA “Y” KELAS XI IPS DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) “Y”
26.  LAYANAN INFORMASI DALAM MENGHADAPI BAHAYA NARKOBA OLEH GURU PEMBIMBING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) “X”
27.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA “X” KELAS III YANG BERPERILAKU AGRESIF  DI SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”
28.  STUDI KASUS TERHADAP KLIEN “X” YANG MALAS BELAJAR DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
29.  STUDI TENTANG MINAT SISWA MELANJUTKAN KE SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) “Y”
30.  PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP  NEGERI “X”
31.  HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN ALAT PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
32.  PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM MEMBANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
33.  PERANAN GURU KELAS SEBAGAI PELAKSANA BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MEMBANTU SISWA MEMUSATKAN PERHATIAN TERHADAP PELAJARAN DI SD  NEGERI “Z”
34.  STUDI KASUS: SISWA “X” YANG UNDERACHIEVER DI SMP  NEGERI “X”
35.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA “M” KELAS IV YANG BELUM LANCAR MEMBACA DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “Y”
36.  EFEKTIVITAS MODEL PENGEMBANGAN PRIBADI DALAM BIMBINGAN KARIER PADA SISWA KELAS VIII SMP  NEGERI “X”
37.  STUDI ANALISIS PENGEMBANGAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM PADA MURID SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
38.  HUBUNGAN ANTARA KEGIATAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU-GURU SMP  NEGERI “X”
39.  PERBEDAAN ANTARA HASIL BELAJAR SISWA YANG BELAJAR KELOMPOK DENGAN SISWA YANG BELAJAR MANDIRI DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
40.  PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
41.  STUDI KASUS SISWA “X” YANG SERING TIDAK MASUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
42.  PENGARUH KURANGNYA BELAJAR DI RUMAH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SD  NEGERI “X”
43.  PERANAN KOMUNIKASI DALAM KELUARGA UNTUK PEMBENTUKAN SIKAP SOSIAL SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) “Y”
44.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA “X” YANG SULIT MEMATUHI PERATURAN MENGIKUTI PROSES BELAJAR KELAS VII4 DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
45.  PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK KELAS VI DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “Y”
46.  PERANAN KONSELOR TERHADAP UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP “Y”
47.  STUDI KASUS PADA SISWA ”X” KELAS VIII YANG SUKA BERKELAHI DI SMP  NEGERI “X”
48.  UPAYA GURU MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SD  NEGERI “X”
49.  PENGARUH EKONOMI ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP “Y”
50.  STUDI ANALISIS PELAKSANAAN KURIKULUM MUATAN LOKAL DALAM UPAYA PERUBAHAN PRILAKU EMOSIONAL SISWA KELAS VIII (8) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
51.  PERANAN POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENCIPTAKAN KREATIVITAS ANAK DI SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”
52.  PERANAN SUMBER BELAJAR DALAM MENUNJANG PROSES PEMBELAJARAN PADA SISWA SMP  NEGERI “X”
53.  PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR MURID KELAS II YANG BERASAL DENGAN YANG TIDAK BERASAL DARI TAMAN KANAK-KANAK DI SD  NEGERI “X”

54.  PENGARUH PELAKSANAAN PROGRAM PERBAIKAN DAN PENGAYAAN TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS II DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”

55.  PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN SISTEM MODUL DALAM LAYANAN PEMBELAJARAN (KONTEN) SISWA KELAS VII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
56.  PENGARUH KOMPETENSI GURU PEMBIMBING TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
57.  KORELASI ANTARA KELANCARAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENDIDIKAN ORANG TUA SISWA KELAS I DI SD  NEGERI “X”
58.  HUBUNGAN ANTARA PERHATIAN ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP “Y”
59.  LAYANAN INFORMASI SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF TERHADAP BAHAYA NARKOBA BAGI SISWA DI SMP  NEGERI “X”
60.  PERANAN GURU PEMBIMBING DALAM MEMOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII DI SMP  NEGERI “X”
61.  STUDI TENTANG PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR BERDASARKAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP  NEGERI “X”
62.  HUBUNGAN ANTARA MINAT BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
63.  STUDI PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING BERBASIS KOMPETENSI DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
64.  KEBIASAAN BERPERILAKU SISWA DALAM BERIMAN DAN BERTAQWA SISWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
65.  HUBUNGAN ANTARA BUDAYA BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
66.  SIKAP GURU MATA PELAJARAN TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI MTs  NEGERI “X”
67.  PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA MENURUT KEDUDUKAN ANAK DALAM KELUARGA DI SMP “Y”
68.  PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN KESENIAN ANTARA SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI SMP  NEGERI “X”
69.  HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS PELAKSANAAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP  NEGERI “X”
70.  KINERJA GURU PEMBIMBING DALAM MELAKSANAKAN PROGRAM KERJA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA  NEGERI “X”
71.  PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN KESENIAN ANTARA SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI SMP  NEGERI “X”
72.  HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS EKSTRAKURIKULER DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMA  NEGERI “X”
73.  KEBIASAAN BERPERILAKU SISWA DALAM BERIMAN DAN BERTAQWA SISWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
74.  PERANAN KONSELOR DALAM MENGARAHKAN SISWA KELAS IX UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN YANG LEBIH TINGGI DI SMP  NEGERI “X”
75.  PERANAN KONSELOR TERHADAP MINAT SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
76.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA “X” YANG SERING MENGGANGGU SISWA PEREMPUAN DI SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”

77.  PERBEDAAN USIA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA USIA DI BAWAH 12 TAHUN DENGAN DI ATAS 12 TAHUN DI SEKOLAH  MENENGAH PERTAMA   NEGERI “X”

78.  PERBEDAAN USIA MASUK SEKOLAH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”


79.  STUDI KASUS TERHADAP SISWA “X” YANG TIDAK SEIMBANG ANTARA PRESTASI BELAJAR DI SEKOLAH TERHADAP PRESTASI OLAHRAGA (PRESTASI OLAHRAGA LEBIH TINGGI DARI PRESTASI BELAJAR DI SEKOLAH) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
80.  PERANAN GURU KELAS MENYELESAIKAN MASALAH SISWA KELAS V DALAM BELAJAR MATEMATIKA DI SD  NEGERI “Y”
81.  HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS EKSTRAKURIKULER DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS  NEGERI “X”
82.  PENGARUH KOMPETENSI GURU PEMBIMBING DALAM MENGATASI SISWA YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
83.  UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBERIKAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP SISWA UNTUK MENCEGAH DROP OUT DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA “Y”
84.  STUDI KASUS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR DI LUAR SISWA “X” KURANG LANCAR MEMBACA DI KELAS III SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”
85.  PELAKSANAAN PROGRAM REMEDIAL DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR  NEGERI “X”
86.  STUDI ANALISIS TERHADAP STRATEGI MENGAJAR GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA MENGIKUTI PROSES KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
87.  EFEKTIVITAS PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA SMP  NEGERI “X”

88.  PENERAPAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MEMBANTU ANGGOTA PKK MENYELESAIKAN MASALAH KELUARGA (KHUSUNYA PENDIDIKAN ANAK) DI DESA “Z”


89.  STUDI KASUS TERHADAP KLIEN “X” YANG SERING MINDER DALAM PERGAULAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
90.  STUDI KASUS SISWA “X” YANG SERING TIDAK MASUK SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
91.  PENGARUH SIKAP ORANG TUA TERHADAP CARA BELAJAR ANAK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
92.  HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN ANAK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SMP  NEGERI “X”
93.  PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SD  NEGERI “X”
94.  HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI KERJA DENGAN HASIL KERJA GURU DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
95.  PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X” (Studi terhadap Siswa Yang Melanggar Peraturan Sekolah di SMP  NEGERI “X”)
96.  STUDI KASUS SISWA ”X” YANG MUDAH MARAH SERTA MELAKUKAN KEKERASAN FISIK APABILA MENDAPAT PERLAKUAN KURANG MENYENANGKAN DARI TEMAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA   NEGERI “X”
97.  PENGARUH PENDIDIKAN NON FORMAL TAMAN PENDIDIKAN AL QURAN (TPA) TERHADAP HASIL BELAJAR ANAK DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
98.  STUDI KASUS SISWA “X” SERING TIDAK MASUK KELAS PADA WAKTU BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
99.  HUBUNGAN ANTARA  INTELIGENSI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)  NEGERI “X”
100.                      KEPEDULIAN ORANG TUA DALAM MELANJUTKAN STUDI ANAK KE SMA/SMK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
101.                      EFEKTIVITAS LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA  NEGERI “X”
102.                      PERILAKU BELAJAR SISWA “X” DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
103.                      STUDI ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMA  NEGERI “X”
104.                      STUDI KASUS SISWI “X” BERPERILAKU LAKI-LAKI DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “Y”
105.                      HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI KERJA DENGAN HASIL KERJA GURU DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “Y”
106.                      PENGARUH PENATAAN FISIK KELAS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SD  NEGERI “Y”
107.                      STUDI KASUS KLIEN “X” PELANGGAR TATA TERTIB SEKOLAH DI SMP  NEGERI “Y”
108.                      PENGARUH LAYANAN INFORMASI CARA BELAJAR SENDIRI DI RUMAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
109.                      PENGARUH POPULARITAS SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMA ”Y”
110.                      HUBUNGAN ANTARA IKLIM KELAS DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
111.                      STUDI ANALISIS TERHADAP PERILAKU PIMPINAN KELOMPOK DI KELAS IV, V, DAN VI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “X”
112.                      STUDI KASUS SISWA “B” TENTANG PERILAKU SALAH SUAI PADA SISWA KELAS X SMA  NEGERI “X”
113.                      STUDI KASUS SISWA “X” MENGALAMI KECEMASAN PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR (SD)  NEGERI “Y”
114.                      STUDI KASUS SISWA “X” SERING KELUAR KELAS PADA SAAT BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)  NEGERI “Y”
115.                      PENERAPAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MEMBANTU PERENCANAAN PENGEMBANGAN KARIER SISWA MAGANG PADA JURUSAN MENJAHIT
116.                      STUDI ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN KARIER DALAM  MENUMBUHKAN MOTIVASI KERJA STAF YANG MEMPUNYAI KONFLIK KERJA DI LINGKUNGAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP)
117.                      STUDI KASUS SISWA “X” KELAS VIII1 YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP  NEGERI “X”
118.                      PROGRAM BIMBINGAN BAGI ORANG TUA DALAM PENERAPAN POLA ASUH UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN SOSIAL ANAK (Studi Kasus Anak dan Orang tua di TK Islam Terpadu Anak Sholeh)
119.                      Upaya Memotivasi Kepercayaan Diri Siswa melalui Bimbingan Kelompok Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP)  NEGERI “X”
120.                      HUBUNGAN ANTARA PERENCANAAN KARIER SISWA DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS VIII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
121.                      KOMPETENSI GURU PEMBIMBING DALAM MENGATASI SISWA YANG MENDAPATKAN KESULITAN BELAJAR DI KELAS VII SMP  NEGERI “X”
122.                      STUDI KASUS SISWA ”X” YANG DIASUH OLEH ORANG TUA YANG OTORITER DI SMA ”Y”
123.                      Studi Analisis tentang Perencanaan Karier Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA)  NEGERI “X”
124.                      STUDI KASUS KLIEN “X” KELAS V YANG SERING MELAKUKAN KEKERASAN PADA TEMAN-TEMAN SEKOLAHNYA DI SD  NEGERI “X”
125.                      Peranan Guru Bimbingan Konseling dalam Mengurangi Kenakalan Remaja di SMP  NEGERI “X”
126.                      PENGARUH PELAKSANAAN LAYANAN INFORMASI TERHADAP KREATIVITAS BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
127.                      Sikap Guru Mata Pelajaran terhadap PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING di Sekolah Menengah Pertama (SMP)  NEGERI “X”
128.                      Hubungan antara Komunikasi Interpersonal dengan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA)  NEGERI “X”
129.                      HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN LAYANAN INFORMASI DENGAN PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)  NEGERI “X”
130.                      HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN AKTIVITAS BELAJAR DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
131.                      Hubungan antara Disiplin Keluarga terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMP  NEGERI “X”
132.                      HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI GURU PEMBIMBING DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
133.                      Hubungan antara Aktivitas Guru Pembimbing dengan Kemandirian Siswa SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
134.                      Studi Kasus Siswa “X” Yang Mengalami Kecemasan dalam Belajar di Kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs)  NEGERI “X”
135.                      Persepsi Siswa terhadap Bimbingan Karier dalam Menghadapi Dunia Kerja di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  NEGERI “X”
136.                      PERANAN LAYANAN INFORMASI TERHADAP PENGEMBANGAN SIKAP SOSIAL SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
137.                      STUDI KASUS SEKELOMPOK GENERASI MUDA PEMAKAI/ PENGGUNA PSIKOTROPIKA
138.                      Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua terhadap Disiplin Belajar Siswa di SMP  NEGERI “X”
139.                      Peranan guru pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di SMP  NEGERI “X”
140.                      STUDI KASUS KLIEN “X” (REMAJA PUTERI) YANG MENYENANGI TEMAN SEJENIS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)  NEGERI “X”
141.                      Studi Kasus Siswa “X” yang Berperilaku Menyimpang di SMP  NEGERI “X”
142.                      Peranan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Program Bimbingan dan Konseling bagi Siswa di Sekolah Menengah Pertama  NEGERI “X”
143.                      Hubungan antara Pola Asuh Orangtua dengan Aktivitas Siswa pada SMP  NEGERI “X”
144.                      Pengaruh Layanan Pembelajaran terhadap Motivasi Belajar Siswa di SMP  NEGERI “X”
145.                      STUDI KASUS SISWA “X” YANG MINDER DARI PERGAULAN TEMAN SEBAYA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) ”Y”
146.                      Hubungan antara Komunikasi Personal Orangtua terhadap Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA)  NEGERI “X”
147.                      PERSEPSI SISWA TENTANG PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DIRI DI SMP  NEGERI “X”

148.                      Hubungan antara Informasi Karier terhadap Pilihan Pendidikan Lanjutan Siswa di SMA  NEGERI “X”
149.                      Studi Kasus Klien ”X” yang Sering Berkelahi di SMP  NEGERI “X”
150.                      Hubungan antara Bimbingan Keluarga terhadap Disiplin Siswa di SMA  NEGERI “X”
151.                      Hubungan antara Perhatian Orangtua terhadap Disiplin Belajar Siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP)  NEGERI “X”

152.                      PERANAN GURU PEMBIMBING DALAM MEMBANTU CARA BELAJAR SISWA KELAS XII DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) “Y”

153.                      PENGARUH SIKAP SOSIAL KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENEGAH PERTAMA (SMP) “Y”


154.                      Hubungan antara Belajar Kelompok dengan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP)  NEGERI “X”

155.                      Hubungan ANTARA Sikap Siswa tentang Layanan Pembelajaran terhadap Kesulitan Belajarnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP)  NEGERI “X”

156.                      Studi Kasus Siswa “X” yang Kurang Konsentrasi dalam belajar di SMP  NEGERI “X”

157.                      Studi Kasus Siswa ”X” yang Hasil Belajar Rendah di Madrasah Tsanawiyah  NEGERI “X”

158.                      HUBUNGAN TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA DI SMP  NEGERI “X”

blogging

blogging
 

Konselor Note Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Provided By Free Blogger Templates | Freethemes4all.com

Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates