Oleh:
Dani Susanta 1301412095
Rieny Kharisma Putri 1301412096
Karisma Bayu Abdi Khawarui 1301412097
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012
A. Analisis Teoretis
Sebagai salah satu profesi yang memberikan layanan sosial
atau layanan kemanusiaan maka secara sadar atau tidak keberadaan profesi
bimbingan konseling berhadapan dengan perubahan realitas baik yang menyangkut
perubahan-perubahan pemikiran, persepsi, demikian juga nilai-nilai. Perubahan
yang terus menerus terjadi dalam kehidupan, mendorong konselor perlu
mengembangkan awareness, pemahaman, dan penerapannya dalam perilaku serta
keinginan untuk belajar, dengan diikuti kemampuan untuk membantu siswa memenuhi
kebutuhan yang serupa. Konselor akan menjadi agen perubahan serta pembelajar
yang bersifat kontinyu. Layanan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting
karena langsung berhubungan langsung dengan siswa. Hubungan ini tentunya akan
semakin berkembang pada hubungan siswa dengan siswa lain, guru dan karyawan,
orang tua / keluarga, dan teman-teman lain di rumah. Selanjutnya bagaimana
pengaruhnya dengan pembelajarannya di sekolah, sosialisasi dengan teman, saudara
baik di sekolah dan di rumah. Dan tentu saja dengan prestasinya di bidang
akademik dan non akademik.
Berarti layanan bimbingan dan konseling harus didukung sistem
yang baik sehingga Layanan ini bisa dilaksanakan dengan lebih komprehensif.
Dukungan layanan ini dapat diperoleh dari tersedianya data yang akurat yang
sepertinya untuk saat ini sangat tepat apabila data tersebut didapatkan dari
system komputasi. Agar bisa bertahan dan diterima oleh masyarakat, maka
bimbingan dan konseling harus dapat disajikan dalam bentuk yang efisien dan
efektif yatiu dengan menggunakan ICT atau dengan kata lain harus melibatkan
teknologi informasi, khususnya teknologi informasi dalam bimbingan dan
konseling.
Dunia teknologi telah merajai dunia, siapa yang
menguasai teknologi maka ia menguasai dunia. Nampaknya juga BK harus
mensinergiskan dengan teknologi yang sedang berkembang. Pesatnya komputer dan
penyebarannya ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan dunia
konseling.
Berbagai
masalah dan tantangan dalam menggunakan ICT dalam dunia konseling dapat
dikemukakan oleh pendapatnya Rahardjo (2000), Hardhono (2002) dalam (Nurhudaya
: 2005) antara lain :
1. Keragamaan teknologi
2. Kurang mampu membeli ICT
3. Kurang kesadaran akan ketepatan penggunaan
ICT
4. Informasi yang kurang komperhensif
5. Terlalu terikat dengan menu pokok
6. Keamanan
7. Kolaborasi.
Kompetensi yang dimiliki konselor sekolah dalam menghadapi
dunia teknologi nampaknya masih jauh. Hal ini dapat berakibat menjadi kultur
shock antara teknologi dan kemapuan teknologi. Oleh karenanya konselor harus
memiliki skill yang siap menghadapi konseli di dunia ICT ini.
Salah satu imbas teknologi informasi dalam BK diantaranya
pada penyelenggaraan dukungan sistem. Dukungan sistem dapat berupa
sarana-prasarana, sistem pendidikan, sistem pengajaran, visi-misi sekolah dan
lain sebagainya. Berbicara sarana-prasarana, memasuki dunia globalisasi dengan
pesatnya teknologi dan luasnya informasi menuntut dunia konseling untuk
menyesuaikan dengan lingkungannya agar memenuhi kebutuhan masyarakat luas.
Oleh
karenanya sekarang ini sedang berkembang apa yang dinamakan cyber-counseling.
Pada hakikatnya penggunaan cyber-counseling merupakan salah satu pemanfaatan IT
dalam dunia bimbingan dan konseling.
Strategi layanan konseling yang harus
diperhatikan dalam pelayanan konseling pada era globalisasi yaitu penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi, dan pendekatan lintas budaya. Berkaitan
dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) perlu
dikolaborasikan dengan bimbingan dan konseling.
Penggunaan ICT dalam konseling mengarah pada
pengembangan media konseling. Selain dapat dilakukan melalui tatap muka,
konseling dapat dilakukan secara jarak jauh. Beberapa diantaranya sebagai
berikut.
1. Konseling melalui telepon
2. Konseling melalui video-phone
3. Konseling melalui radio atau televisi
4. Konseling berbantuan komputer
5. Konseling melalui internet
6. Konseling melalui surat magnetik (disket ke
disket)
Hines
(2002) mengemukakan beberapa kompetensi yang harus dimiliki konselor berkenaan
dengan ICT yaitu hendaknya konselor (Nurhudaya : 2005):
1. Menjadi konsumen ICT yang faham dan terampil
2. Familiar akan kecenderungan penggunaan ICT
dalam bidang pendidikan
3. Dapat menggunakan berbagai sumber teknologi.
4. Mampu mengembangkan rencana penggunaan
teknologi untuk pelayanan BK
5. Dapat mendesain, menciptakan dan mengevaluasi
suatu program interaktif.
6. Memahami implikasi legal dan etis dari
penggunaan teknologi.
7. Mampu menggunakan teknologi secara efektif
guna mengelola data siswa
8. Mampu menggunakan teknologi sebagai alat
Salah
satu kendala lainnya berkaitan dengan penerapan sistem teknologi informasi
dalam bimbingan dan konseling adalah masalah aksesibilitas, baik fisik maupun
kemampuan dalam memanfaatkan dan menggunakan TI untuk bimbingan dan konseling.
B. Analisis Praktis
Tidak dapat disangkal bahwa saat ini kita hidup
dalam dunia teknologi. Hampir seluruh sisi kehidupan kita bergantung pada
kecanggihan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Bahkan, menurut Pelling (2002)
ketergantungan kepada teknologi ini tidak saja di kantor, tetapi sampai di
rumah-rumah. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah
mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan
pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat
atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. TI dalam
konseling antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.
C. Manfaat
TI dalam BK
Komputer merupakan salah satu media yang dapat
dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Pelling (2002) menyatakan
bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa
dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan
karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa
akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan
pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Manfaat
penggunaan komputer (internet) adalah:
1.
Pemanfaatan
internet untuk survei, studi eksplorasi, mencari data, informasi atau dokumen
elektronik yang berharga, dll.
2.
Pemakaian
email dan messaging dengan memperhatikan etika.
3.
Publikasi
pengumuman, makalah, materi ajar, program aplikasi gratis, data, dll. yang
dinilai bermanfaat bagi masyarakat luas pada situs web (website).
4.
Penyelenggaraan
kompetisi ilmiah, seni, ketangkasan secara on line yang bernilai positif bagi
masyarakat luas.
Data-data
yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan
dan masuk akal (Pearson, dalam Pelling 2002; Hohenshill, 2000). Data atau
informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki
tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di
internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi. Sehingga kecil kemungkinan
jika data yang dimasukkan berupa data-data sampah. Sebagai contoh, saat ini
dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan,
informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa
sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang
dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh
siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan.
Sampsons (2000) mengungkapkan bahwa fasilitas di
internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu
saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa. Penggunaan komputer di kelas
sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti
yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1. Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan
keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi
lebih menarik;
2. Akan meningkatkan kunjungan ke web site,
terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa;
3. Konselor akan memiliki pandangan yang baik
dan bijaksana terhadap materi yang diberikan;
4. Akan memunculkan respon yang positif terhadap
penggunaan email;
5. Tidak akan menimbulkan kebosanan;
6. Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain
sebagainya melalui website; dan
7. Terdapat pengaturan yang baik
Selain penggunaan internet seperti yang telah
diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power
point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan
secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan
dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan.
Program software power point memberikan
kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan
layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa
tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan
gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power
point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di
luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih
optimal.
Gambar-gambar yang disajikan melalui program
power point tidak statis seperti yang terdapat pada Over Head Projector (OHP).
Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang bergerak, bahkan konselor bisa
melakukan insert gambar-gambar yang ada di sebuah film.
Media lain yang dapat dipergunakan dalam proses
bimbingan dan konseling di kelas antara lain adalah VCD/DVD player. Peralatan
ini seringkali dipergunakan oleh konselor untuk menunjukkan perilaku-perilaku
tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak pada tayangan tersebut dipergunakan
oleh konselor untuk merubah perilaku klien yang tidak diinginkan (Alssid &
Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam Baggerly 2002). Dalam proses pendidikan
konselor pun, penggunaan video modeling ini juga dipergunakan untuk
meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling yang akan dikembangkan bagi
calon konselor (Koch & Dollarhide, 2000, dalam Baggerly, 2002).
Sebelum VCD/DVD player ini ditayangkan, seorang
konselor sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa tentang
alasan ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting, sebab dengan
memiliki gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa akan
memiliki kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan, maka konselor
meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah mereka lihat.
Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana klien
berpikir dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah perilaku
klien atau siswa.
Media E-learning, adalah metode belajar mengajar
baru yang menggunakan media jaringan komputer dan Internet, tersampaikannya
bahan ajar (konten) melalui media elektronik, otomatis bentuk bahan ajar juga
dalam bentuk elektronik (digital), dan adanya sistem dan aplikasi elektronik
yang mendukung proses belajar mengajar.
Manfaat dari E-learning adalah:
• Pembelajaran dari mana dan kapan saja (time
and place flexibility).
• Bertambahnya Interaksi pembelajaran antara
peserta didik dengan guru atau instruktur (interactivity enhancement).
• Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang
luas (global audience).
• Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan
materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable
capabilities).
Kerugian TI dalam BK
Pelling (2002) menyatakan bahwa, walaupun saat
ini masyarakat sangat tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih
banyak diantara kita yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar
masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh
orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih baik. Hal ini tidak
lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat kita.
Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi
jika pola pikir masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini
benar, maka data atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna.
Sebagai contoh, seorang siswa akan memilih jurusan di perguruan tinggi. Mungkin
mereka akan mencari informasi sebanyak mungkin, dan konselor akan memfasilitasi
keinginan mereka. Tetapi, pada saat mereka dihadapkan untuk menentukan dan
memilih jurusan yang akan diambil, maka tidak jarang dari mereka akan berkata,
“Saya senang dengan jurusan A, tetapi nanti tergantung pada orang tua saya”.
Contoh lain, saat ini perkembangan teknologi
sudah berkembang dengan demikian pesat. Tiap manusia dapat berkomunikasi tanpa
dibatasi rentang ruang dan waktu. Tetapi dalam budaya tertentu, alat komunikasi
ini bisa menjadi “tidak bermanfaat”. Restu orang tua merupakan hal yang
dianggap sakral oleh sebagian budaya tertentu, bahkan meminta restu ini akan
lebih afdol jika dilakukan dengan melakukan sungkem. Untuk menunjukkan perilaku
ini, maka seringkali mereka melupakan kecanggihan piranti komunikasi yang sudah
canggih, walau jarak yang ditempuh untuk mendatangi orang tua relatif jauh.
Hal lain yang terkait dengan penggunaan media
dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran pengguna seringkali disamakan.
Walaupun ragam media sudah bermacam-macam, tetapi media ini seringkali masih
belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam bimbingan dan konseling
dikenal istilah empati. Penggunaan media, seringkali pula akan “menghilangkan”
empati konselor, jika konselor mempergunakan media sebagai alat bantu utama.
Klien datang ke ruang konseling tidak selalu
membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan klien
atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari
konselor secara langsung melalui proses konseling. Tetapi adakalanya, siswa
atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin mendapatkan senyuman dari
konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor.
Sebagai benda mati, peralatan teknologi yang ada
saat ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami
penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan
memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang paham peralatan
tersebut. Sebaliknya, peralatan ini akan memberikan dampak negatif jika
pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan. Banyak contoh kasus
dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti beredarnya rekaman
video porno di ponsel, beredarnya video porno bajakan yang dilakukan oleh anak
negeri dan lain sebagainya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Ti
yang negatif adalah:
• Memberikan account pribadi kepada orang lain
dengan tujuan agar orang tersebut dapat membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah
yang seharusnya dikerjakan sendiri.
• Men- download data berukuran sangat besar
(misalnya video) yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan materi
pembelajaran, sehingga “memadati” lalu-lintas jaringan dan mengganggu pengguna
jaringan yang lain.
• Bermain online game (via internet) yang tidak
ada kaintannya dengan materi atau kegiatan pembelajaran.
• Mengakses (men- download) maupun
mempublikasikan tulisan, gambar, suara, video, dll. yang asusila (porno) atau
tidak etis.
• Mempublikasikan hasil karya orang lain dengan
melanggar hak cipta.
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. KESIMPULAN
Sistem teknologi informasi saat ini telah
berkembang dengan sangat pesat sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan
manusia yang semakin meningkat. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi
tersebut, manusia dengan mudah dapat mengakses informasi dari belahan dunia
manapun dengan sangat cepat sehingga kebutuhan manusiapun menjadi semakin cepat
terpenuhi.
Kemajuan teknologi informasi tersebut juga
sangat bermanfaat dalam bidang pendidikan. Bimbingan dan konseling sebagai
salah satu aspek dalam pendidikan juga merasakan manfaat dari kemajuan
teknologi informasi tersebut. Aplikasi yang sangat nyata adalah proses layanan
bimbingan dan konseling sudah tidak harus dengan bertatap muka, melainkan bisa
dengan menggunakan media informasi baik itu telepon maupun internet. tetapi
semua itu bukan tanpa masalah. Banyak sekali hambatan yang menjadi duri bagi
kemajuan dunia bimbingan dan konseling. Salah satunya adalah sumber daya
manusianya yang belum bisa memanfaatkan dengan baik kemajuan teknologi
informasi tersebut sehingga perlu sosialisasi kepada konselor maupun kepada
konseli agar kedua belah pihak bisa sama-sama memanfaatkan media teknologi
informasi yang sudah maju.
Link download PPT - Pembelajaran TIK dalam BK modern - Disini